Beberapa hari aku mengamati apa yang terjadi disekitarku. Kadang aku berpikir, kenapa orang miskin selalu tetap berada dalam kemiskinannya. Dan orang kaya semakin bertambah kekayaannya. aku selalu menanyakan pada hati, dan aku sudah menemukan jawabannya. Entah ada angin apa, tiba-tiba aku ingin mendengarkan radio. Mungkin Allah memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hatiku melalui media itu. Di radio, sedang berkisah tentang dua orang laki-laki yang berbeda pada zaman Nabi Musa as. Yang satu miskin, dan yang satu lagi kaya. Suatu hari, seorang laki-laki miskin mendatangi Nabi Musa as, dan berkata: “wahai Nabi, kenapa sampai saat ini saya masih miskin. Apa yang harus saya lakukan agar hidup saya lebih baik?”, dan Nabi Musa as memberikan jawabannya yang menurut laki-laki tersebut bukan sebuah solusi. Nabi Musa menjawab:”Hendaklah engkau bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah”. Laki-laki itu berkata lagi: “Bagaimana saya bisa bersyukur, sedangkan saya tidak memiliki apa-apa yang harus saya syukuri”. Kemudian laki-laki itu pergi dengan perasaan kesal.
Beberapa hari kemudian, datang seorang laki-laki kaya ke rumah Nabi Musa. Laki-laki itu bercerita tentang kehidupannya yang selalu berkecukupan. Meskipun dia hidup serba berlebihan, akan tetapi hatinya tidak tenang akan kekayaannya. Oleh karena itu dia bertanya kepada Nabi Musa: “Wahai Nabi, apa yang harus saya lakukan agar saya menjadi seorang yang miskin?”. Nabi pun menjawab: “Hendaknya engkau tidak usah bersyukur kepada Allah”. Lalu laki-laki tersebut menanggapi jawaban Nabi Musa: “Bagaimana saya tidak bersyukur kepada Allah, padahal saya sudah diberikan kenikmatan tangan, kaki, nafas, dan akal. Sehingga saya bisa bekerja dengan giat dan berhasil seperti ini”. Lalu laki-laki ini pun pergi.
Selang beberapa bulan,,orang miskin yang datang ke Nabi Musa semakin bertambah miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanyalah baju yang menempel pada badannya. Sedangkan orang kaya itu, semakin bertambah pula hartanya. Sehingga dia bisa bersedekah pada si miskin.
Dari cerita itu,,aku sedikit bisa mengetahui kenapa orang papa malah semakin papa. Hal ini pernah aku lihat sendiri. Ketika itu, aku sedang dalam perjalanan pulang ke Bogor. Dalam bus, ada seorang pemuda yang sedang mengamen. Dari rumah aku sudah menyiapkan beberapa uang receh untuk persiapan jika ada pengamen. Sebelum pemuda itu mengamen, di tempat sebelumnya juga ada yang mengamen. Dan ketika, aku memberikan uang receh 200,-. Dia tidak menolaknya. Akan tetapi beda halnya dengan pemuda yang ini. Ketika aku menyodorkan 200,- dia malah menolaknya dengan kasar dan mengeluarkan kata-kata yang membuatkan ingin menangis. Apa salah jika aku hanya memberinya 200,-????… Dengan hati yang sedikit sakit,,,karena tingkahnya.. aku hanya berdo’a semoga Allah memberikan kemudahan baginya untuk mendapatkan rizki. Dan sedikit menyayangkan sikap pemuda itu. Seharusnya dia bersyukur, atas nikmat yang diberi. Secara ekonomi saja, kalo 200,- dikalikan 20 orang dibus bisa 4.000,- dan jika sehari dia mengamen sebanyak 20 kali. Dia bisa mendapatkan Rp. 200,- X 20 X 20 = Rp. 80.000…
Aku tidak tahu bagaimana,,dia selanjutnya.. Hanya Allah yang tahu cara memperlakukannya.
Padahal dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan, yang intinya: Ketika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya Aku akan menambahkan nikmat kepadamu. Namun, apabila engkau ingkar, sesungguhnya engkau akan mendapatkan azab yang lebih menyedihkan…
Maka dari itu,,,,untuk kawan-kawan yang membawa blog ini. Sudahkah anda mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu???.
Kalo belum,,lekaslah sadar dan bersyukur atas apa yang telah Dia berikan kepadamu.
Saran & Kritik