Posted by: Chalim | March 15, 2015

I’m Come Back

Horeeeeeee……

akhirnya bisa buka lagi web jadul ku ini..

Duniaku sudah berbeda…

Mau tahu??? nantikan episode selanjutnya..

Posted by: Chalim | May 25, 2013

MI ROUDHOTUZZAHIDIN

MI ROUDHOTUZZAHIDIN TEGALARUM

Kondisi MI Tegalarum Klaten saat ini.
Sekolah dasar pertama yang telah ku lalui, 6 tahun disana. Dengan banyak cerita, kenangan akan seseorang yang begitu mempesonaku. Guru-guru yang dengan luar biasa sabar menghadapi kami. Teringat akan sahabat kecilku, yang tak pernah lelah untuk mencari ilmu. Pengalaman ketika dibonceng berdua ketika Lomba Cerdas Cermat.. Waktu itu lucu sekali. Tak terasa kita sudah dewasa, teman..
Kangen kaliaan.. *kapan reunian ya*..

Posted by: Chalim | March 18, 2011

Rinai Hujan,,Semerbakkan Harum Alam.

Aku sangat menyukai hujan,,entah kenapa aku begitu menyukainya..
ketika rintik pertama,,bersentuhan dengan tanah..
hatiku bergetar,,,
hidungku mendengus…
mengendus-endus aroma yang diciptakan hujan..
Mencium semerbak alam yang menyegarkan..
Membuatku seolah menyatu pada alam..
Bau tanah,,,,yang begitu menyeruak dalam hidungku..
Menyesaki kepalaQ,,dengan aroma2 khas tanah liat..
Menandakan bahwa dia kembali hidup,,.
stelah sekian lama,,hujan tak menjenguknya,,mengisi rongga2nya.
Membasahi ruang2 yang tenggah kering kerontang..

Aku menyukainya,,,mencium bau2 harum dari tanah.. membuatku tenang,,

Posted by: Chalim | January 29, 2011

Bersyukur adalah wujud terima kasihmu kepada-Nya

Beberapa hari aku mengamati apa yang terjadi disekitarku. Kadang aku berpikir, kenapa orang miskin selalu tetap berada dalam kemiskinannya. Dan orang kaya semakin bertambah kekayaannya. aku selalu menanyakan pada hati, dan aku sudah menemukan jawabannya. Entah ada angin apa, tiba-tiba aku ingin mendengarkan radio. Mungkin Allah memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hatiku melalui media itu. Di radio, sedang berkisah tentang dua orang laki-laki yang berbeda pada zaman Nabi Musa as. Yang satu miskin, dan yang satu lagi kaya. Suatu hari, seorang laki-laki miskin mendatangi Nabi Musa as, dan berkata: “wahai Nabi, kenapa sampai saat ini saya masih miskin. Apa yang harus saya lakukan agar hidup saya lebih baik?”, dan Nabi Musa as memberikan jawabannya yang menurut laki-laki tersebut bukan sebuah solusi. Nabi Musa menjawab:”Hendaklah engkau bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah”. Laki-laki itu berkata lagi: “Bagaimana saya bisa bersyukur, sedangkan saya tidak memiliki apa-apa yang harus saya syukuri”. Kemudian laki-laki itu pergi dengan perasaan kesal.
Beberapa hari kemudian, datang seorang laki-laki kaya ke rumah Nabi Musa. Laki-laki itu bercerita tentang kehidupannya yang selalu berkecukupan. Meskipun dia hidup serba berlebihan, akan tetapi hatinya tidak tenang akan kekayaannya. Oleh karena itu dia bertanya kepada Nabi Musa: “Wahai Nabi, apa yang harus saya lakukan agar saya menjadi seorang yang miskin?”. Nabi pun menjawab: “Hendaknya engkau tidak usah bersyukur kepada Allah”. Lalu laki-laki tersebut menanggapi jawaban Nabi Musa: “Bagaimana saya tidak bersyukur kepada Allah, padahal saya sudah diberikan kenikmatan tangan, kaki, nafas, dan akal. Sehingga saya bisa bekerja dengan giat dan berhasil seperti ini”. Lalu laki-laki ini pun pergi.
Selang beberapa bulan,,orang miskin yang datang ke Nabi Musa semakin bertambah miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanyalah baju yang menempel pada badannya. Sedangkan orang kaya itu, semakin bertambah pula hartanya. Sehingga dia bisa bersedekah pada si miskin.

Dari cerita itu,,aku sedikit bisa mengetahui kenapa orang papa malah semakin papa. Hal ini pernah aku lihat sendiri. Ketika itu, aku sedang dalam perjalanan pulang ke Bogor. Dalam bus, ada seorang pemuda yang sedang mengamen. Dari rumah aku sudah menyiapkan beberapa uang receh untuk persiapan jika ada pengamen. Sebelum pemuda itu mengamen, di tempat sebelumnya juga ada yang mengamen. Dan ketika, aku memberikan uang receh 200,-. Dia tidak menolaknya. Akan tetapi beda halnya dengan pemuda yang ini. Ketika aku menyodorkan 200,- dia malah menolaknya dengan kasar dan mengeluarkan kata-kata yang membuatkan ingin menangis. Apa salah jika aku hanya memberinya 200,-????… Dengan hati yang sedikit sakit,,,karena tingkahnya.. aku hanya berdo’a semoga Allah memberikan kemudahan baginya untuk mendapatkan rizki. Dan sedikit menyayangkan sikap pemuda itu. Seharusnya dia bersyukur, atas nikmat yang diberi. Secara ekonomi saja, kalo 200,- dikalikan 20 orang dibus bisa 4.000,- dan jika sehari dia mengamen sebanyak 20 kali. Dia bisa mendapatkan Rp. 200,- X 20 X 20 = Rp. 80.000…
Aku tidak tahu bagaimana,,dia selanjutnya.. Hanya Allah yang tahu cara memperlakukannya.
Padahal dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan, yang intinya: Ketika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya Aku akan menambahkan nikmat kepadamu. Namun, apabila engkau ingkar, sesungguhnya engkau akan mendapatkan azab yang lebih menyedihkan…

Maka dari itu,,,,untuk kawan-kawan yang membawa blog ini. Sudahkah anda mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu???.
Kalo belum,,lekaslah sadar dan bersyukur atas apa yang telah Dia berikan kepadamu.

Posted by: Chalim | December 20, 2010

Hikmah Menyambung Tali Silaturrahmi

Sabtu, 18 Desember 2010

Hari ini, aku bimbang untuk datang ke kumpul bulanan ALASKA-an. Selain tempatnya jauh dari tempat kostanku. Ada masalah klasik yang membuatku bimbang untuk datang. Biasaa….uang transport kesana yang lumayan menguras isi dompet (lebayyy). Terus, hari kamis atau jum’at aku berencana pulang kampung. Kalo aku ikut, gimana aku pulangnya..(mulai bimbang). Cukup lama juga memutuskan untuk kesana, namun setelah menimbang-nimbang. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke ALASKA-an. Ku putuskan untuk mengajak teman-teman ALASKA IPB untuk ikut serta, tapi sebagian besar sedang banyak aktivitas. Tapi, ada seorang yang ikut. Senengnyaa… Urusan uang pulang,,nanti ajalah.. Pasti ada solusinya, karena setiap masalah selalu akan ada solusinya. Allah kan memberikan kita akal, nah dari akal itulah kita bisa memikirkan solusinya. (ndak yo..???)

Ahad, 19 Desember 2010

Kesepakatan untuk datang ke ALASKA-an sudah diputuskan, jam 08.00 berangkat dari Bogor. Sebelum berangkat, jam 06.00 aku sudah menyiapkan sarapan spesial buatan sendiri,,,,nasi goreng sayur yang lezzzaatnya ga ketulungan…(mulai narsiss..hoho). Selain untuk berhemat, mencegah pula biar ga jajan waktu perjalanan ke ALASKA-an di Halim Kusuma, Jakarta. Setelah selesai sarapan, barulah aku beres-berse tas dan memasukkan beberapa barang untuk persediaan ke Jakarta (Padahal cuma bawa air putih thokk)..
Bertemulah aku dengan kakak kelas, yang cantik dan baik hati (Jo GR yo mbak,,,haha). Dengan terkantuk-kantuk, sampailah di terminal Bus Baranangsiang (BS). Untuk memperpendek waktu, kita naik bus AC. Nah,,,,ga tau kenapa,,mungkin kakak kelasku tau kalau aku lagi bokek., atau Allah telah menggerakkan hatinya.. Untuk bus kesana,,aku dibayarin.. Duhh,,,makasih mbak…makasih ya Rabb..
Hanya 40 menit, kami sudah sampai di Kp. Rambutan. Kami melanjutkan perjalanan kami ke daerah Halim, dengan transit ke rumah mas Imam.
Disana, kami beristirahat dan sholat. Jam 1 siang, kami baru berangkat ke Halim Kusuma tempat kami kumpul ALASKA-an. Emang rezeki tidak akan kemana, kami dibayarin transpor oleh kakak kelas yang sudah bekerja. Aku hanya ngeluarin uang transpor angkot, dan itu pun murah. Ga nyampe bikin si “skimpy” (nama dompetq) muntah….hahaha
Nyampe ditempat ALASKA-an,,,aku baru sadar. Ternyata aku kerumah orangtua temen SMP ALASKA dulu. Jadi tau, kalo mau maen2 kesana. haha..
Acaranya,,,memang seperti itu-itu aja. But, I Like it..tahlilan lanjut baca Barzanzi,.. Ayeesss,,,rasanya…membayangkan dulu ketika Rosulullah hijrah ke Madinah. Orang-orang Madinah, menyambutnya dengan sholawatan. Acara demi acara telah terselesaikan, akhirnya kita siap-siap mau pulang. Ehh,,,pas mau pulang, kita disuruh bungkus2 makanan buat di kostan (luamayan menghemat jatah makan sehari,,hehehe). Selain itu,,..ada angpao rek.. Wuiih,,,ga nyangka euy.. Alhamdulillah,,lumayan buat nambah uang pulang kampung…hahaha
Selama dalam perjalanan, aku sedikit bermenung diri. Inilah hikmah dari menyambung tali silaturrahmi, selain memperpanjang umur,,,menambah rizqi pula,,,hehehe.. Setiap kesulitan yang kita miliki, juga terselesaikan dengan ending yang menyenangkan. Thank’s to Allah,,, Luv all ALASKA Jabodetabek…

Posted by: Chalim | August 16, 2010

Mungkinkah Indonesia Mencapai Good Forest Governance?

Kondisi hutan di Indonesia menunjukkan adanya perubahan sumberdaya hutan baik kualitas maupun kuantitas ke arah yang mengkhawatirkan. Tidak bermaksud untuk mendramatis kondisi hutan di Indonesia yang sekarang menjadi keprihatinan banyak pihak baik nasional maupun internasional. Data menunjukkan bahwa dari luas 120,35 juta hektar, sekitar 59,3 juta hektar kondisinya rusak dengan laju kerusakan pada periode 2000-2006 sebesar 1,08 juta hektar per tahun (Husna Faad dan Faisal D.F., 2007).
Hutan di Indonesia merupakan asset yang mampu menghidupi jutaan orang di Indonesia. Hutan bagi Indonesia adalah sumberdaya alam yang paling penting karena hutan menyimpan sebagian besar keanekaragaman spesies dan sebagai pabrik penghasil oksigen yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Kekayaan hutan yang menutupi lebih dari separuh luas daratan di Indonesia dan menjadi tempat tinggal 80-95 juta jiwa komunitas-komunitas lokal (Andy White dan Alejandra, 2002). Namun kekayaan itu hanya dinikmati beberapa gelintir orang-orang mempunyai hak-hak istimewa terhadap hutan.

Hutan
Sejak pemerintah mengeluarkan HPH (Hak Penguasaan Hutan) baik untuk perusahaan skala besar maupun kecil, kerusakan hutan semakin meningkat. Perusahaan-perusahaan asing mulai diizinkan untuk “mengolah” lahan Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut dengan teknologi yang modern dalam mengeksploitasi hutan, menyebabkan hutan semakin sedikit.
Istilah penggundulan hutan muncul ketika hutan-hutan yang dibabat oleh perusahaan-perusahaan secara cepat seperti memotong rambut di tukang potong rambut. Meskipun terdapat program reboisasi, namun belum ada keberhasilan dalam penerapan program tersebut. Program penghutanan kembali yang dikaitkan dengan pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) tidak pernah berhasil mencapai target karena selama ini program tersebut hanyalah sebagai kedok untuk menarik dana reboisasai yang teronggok dikantong pemerintah pusat (Jurnal KF, 2008).
Tindakan pembukaan hutan secara besar-besaran telah mengakibatkan kebakaran hutan, degradasi lahan, erosi, illegal logging, konflik-konflik yang terjadi dalam masyarakat mengenai hutan, dan bencana banjir yang sampai saat ini belum ditemukan bentuk penanggulangan yang efektif. Konflik yang tak kunjung ada penyelesaiannya juga menambah permasalahan hutan di Indonesia. Hutan semakin menuju masa-masa kritisnya.
Krisis mulai merambah dibelahan dunia, dampak dari pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan mulai terlihat dengan adanya pemanasan global yang biasa disebut global warming. Kampanye-kampanye untuk melakukan perbaikan kembali hutan-hutan yang kritis semakin marak. Pemerintah mau tidak mau harus turun tangan untuk mengatasi dampak dari kelalaiannya mengelola hutan.
Pengrusakan hutan yang diakibatkan karena kurangnya pemerintah dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam serta konflik-konflik antar masyarakat dengan pemerintah tidak teratasi secara keseluruhan. Pemerintah terutama pihak perhutani akhirnya memunculkan konsep-konsep pengelolaan sumberdaya alam bersama masyarakat sebagai jawaban terhadap fenomena-fenomena sosial ekonomi dimasyarakat sekitar hutan.
Akan tetapi dalam penerapannya, pihak perhutani belum banyak melakukan negosiasi dengan masyarakat sekitar hutan sehingga sering kali program tersebut ditolak mentah-mentah oleh masyarakat. Namun, ada beberapa daerah yang mulai menunjukkan perhatiannya untuk melakukan pengelolaan SDA tersebut. Di Kuningan misalnya, konsep PHBM mengalami keberhasilan. Hal itu dikarenakan stakeholders di Kuningan dapat berkolaborasi secara langsung. Proses negosiasi antar pihak mencapai kesepakatan untuk mengelola hutan. Namun, ada juga konsep PHBM yang malah berujung menjadi konflik.
Pendirian Taman Nasional yang juga merupakan alternatif solusi dalam pengelolaan sumberdaya alam yang dibentuk pemerintah untuk mengkonservasi hutan. Justru banyak menimbulkan konflik antara pihak taman nasional dengan masyarakat yang tinggal dalam wilayah Taman Nasional tersebut. Pengetahuan-pengetahuan tentang hutan dari Taman Nasional yang cenderung berseberangan dengan pengetahuan-pengetahuan lokal di masyarakat adat menjadi pokok konflik yang perkepanjangan. Keegoisan pihak Taman Nasional yang tidak mau memahami nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat adat yang tinggal di hutan tersebut juga kerap memicu konflik diantara keduanya.

Good Forest Governance?
Jika konflik-konflik tersebut tidak dapat diatas dalam jangka waktu yang panjang. Akankah Indonesia dapat meminimalisir kerusakan-kerusakan sumberdaya alam yang dimilikinya. Akankah hutan yang sekarang akan habis akibat tidak adanya pengelolaan yang efektif. Pemerintah perlu meninjau ulang tata kelola hutan yang selama ini telah diterapkan agar hutan di Indonesia di masa mendatang tidak tergerogoti oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab yang merugikan masyarakat Indonesia.

Dewy Chalim
Mhs Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB

Posted by: Chalim | June 11, 2010

Belajar menulis

Biarpun belepotan,,aku akan terus belajar menulis.
Aku ga mau,…jika aku tak punya catatan kehidupan tentang diriku,..
Meski,,banyak catatan-catatan yg ruwet..
Berusaha untuk membuat sebuah catatan yang nantinya akan dibaca banyak orang dan bermanfaat untuk generasi selanjutnya..
Bagimana cara aku menulis,,akupun tak tahu..
Teknik menulispun aku tak menguasainya.. yang aku bisa hanya menulis…menulis..dan menulis..
Ya Rabb,,mudahkan hamba-Mu ini untuk menulis sebuah adikarya yang mampu mengguncangkan dunia…karena tulisan-tulisan yang memuat keaGungan-Mu..
kaRna salah satu impianQ,,,adaLah jd peNuLis…ga haRus best seLLer juga tak pa….asaL bisa dibaca oleh semua orang,,,dibelahan dunia ini… dan bermanfaat bagi masyarakat…
semoga terCapai,,,,,Yassirlanaa kuLLaL ‘umuri ya Rabb.
‘darmaga, 11 Juni 2010’

Posted by: Chalim | June 11, 2010

Nice dReam

Semalam aku memimpikan,,aku berda dalam ruangan yang sedang menyenandungkan namamu ya Rasul.. Senang tak terkira,,,,aku bisa bersholawat dalam mimpi…
Andai….aku bisa bertemu denganmu wahai kekasih Allah..
Sholatum bissalamiL muBinii..

‘darmaga, 11 Juni 2010’

Posted by: Chalim | May 20, 2010

Coretan awaL…

Cerita kali ini,,..
Seru plus meneGangkan…
Mengawali sebuah epidosa yang terus akan digarap oleh sang sutradara begitu sudah untuk dijabarkan. Menjadi penulis tak semudah bayanganku dulu. Aku kira, menulis itu hanya membutuhkan kertas dan bolpoint atau potlot. Tiba-tiba sebuah mimpi yang mirip dengan sinetron-sinetron di Indonesia datang menghampiriku. Mimpi-mimpi tentang suatu mitos yang diceritakan oleh teman sekamarku. Mungkin itu imbas dari aktivitas curhat larut malam tanpa melihat deting jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Cerita-cerita yang bergulir dari bibir seorang anak desa yang dengan gigihnya bisa mencapai puncak prestasi. Dia memang seorang biasa, namun lika-liku kehidupannya membuatnya lebih luar biasa dariku. Aku tak menyangka bisa bertemu orang-orang amazing sepertinya. Sekilas tentang dirinya, sebelum aku memulai kisah-kisahnya. Pertama kali kutahu namanya, ketika aku dan teman-temanku diruang kelas sedang bersiap untuk pindah ke asrama. Dia datang bersama pamannya dan maju kedepan kelas sambil berkata “Nama saya Prihatin”, kami sekelas tertawa. “Prihatin???” nama yang kontras dengan keadaannya yang memprihatinkan menurut kami waktu itu. Namun sekilat dia menangkis dugaanku dan teman-temanku. Katanya namanya bukan bermakna prihatin namun farihatin (senang), berhubung dia dari Jawa (yang kebanyakan sulit untuk melafadzkan huruf arab) maka orang-orang disekitarnya memanggilnya prihatin.

Balik lagi….
Setiap jeda waktu khususnya malam hari, jika kita berdua tak lelah. Dia bercerita padaku. Cerita-cerita yang kadang-kadang membuatku merinding ditengah sunyi senyapnya malam. Dia berasal dari desa yang masih memegang banyak misteri-misteri dan mitos. Kebanyakan orang-orang desanya yang dulu, masih mempunyai ilmu-ilmu kejawen. Berawal dari kehidupannya menjadi seorang anak buruh tani miskin yang tak berpendidikan secara formal. Namun mempunyai sopan santun yang luar biasa. Orangtuanya belajar dari suara-suara alam yang erat dengan kesehariannya untuk menafkahi anak-anaknya. Bapaknya seorang buruh tani yang penuh wibawa, sehingga orang-orang mempercayakan sawahnya untuk digarapnya. Ibunya adalah wanita perkasa yang setia membantu suaminya disawah untuk mburuh tani.

Dia menceritakan padaku, betapa nelangsanya (sedihnya) dia ketika masa kanak-kanaknya harus direnggut oleh kondisi keluarganya yang memprihatinkan. Dan mengharuskan dia untuk terjun langsung membantu orang tuanya mencari nafkah guna membiayai sekolah mbak dan masnya……(to be continued)

PenuLis mau pUlang n’ maKan duLu,,,,,Laper juga biKin tulisan2…

Posted by: Chalim | February 10, 2010

Story Reality

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang
memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia,
tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Saat
membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak,
sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang
parah
sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga
puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti
bahwa
ibunya tidaklah mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya “Ma, saya mau berhenti sekolah dan
membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan
berkata “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali
tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah
melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.
Karena
sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya
menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak
ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus
berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang
pergi menjauh. Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas
tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong
beras dari bahunya. pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras
dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu
menimbangnya
dan berkata “Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan
kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi
kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang
ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas
tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk
kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong
beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang
mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun
berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan
kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami
akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama,
kalau
tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya
kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang
pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata “Kamu
sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa
beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”. Dengan berlinang
air
mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata:
“Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”.
Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan
berkata
“Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun
susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku
dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya
melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia tidak
memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih
takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan
kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk
mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung
sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan
kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata
Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari
lantai dan berkata “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala
sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang
ibu
buru- buru menolak dan berkata “Jangan, kalau anakku tahu ibunya
pergi
mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga
dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu
dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga
rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah.
Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya
hidup anak tersebut selama tiga tahun. Tiga tahun kemudian, sang anak
tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing hua dengan nilai 627
point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang
ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa
aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa
hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih
terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju
kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi
anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras
itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita
tadi.” Dan mempersilakan sang ibu yang sangat luar biasa tersebut
untuk naik keatas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-
ragu
melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan
keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan
mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun
memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata “Oh Mamaku……

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman
dan sepanjang kenangan”. Inilah kasih seorang mama yang terus dan
terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak.
Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal
lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta
sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama
dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat “Terimakasih Mama..
Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya”

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.